Skip to main content

EVOLUSI TEORI MANAJAMEN

EVOLUSI TEORI MANAJAMEN


Sejarah perkembangan ilmu sosial
F
ilsafat pengetahuan Positivisme (1848/1865) muncul dari sudut
pandang sekularisme (1851) yang disebabkan oleh revolusi industri
(1750-1850). Itu dimulai dari Revolusi Industri (1750-1850). Istilah ini
digunakan pada suratutusan Prancis Louis-Guillaume Otto pada tangga 6
Juli 1799. Istilah Revolusi Industri dikenal pada saat perubahan teknologi
dan menjadi lebih umum dengan tahun 1830-an. Perubahan teknologi yang
menyebabkan revolusi industri mengubah seluruh masyarakat sipil dan
memunculkan paradigma intelektual seperti Kapitalisme, Sosialisme dan
Romantisisme. Gerakan kapitalisme didukung oleh Étienne Clavier (1788);
Arthur Young (1792); David Ricardo (1817), Samuel Taylor Coleridge,
(1823); Pierre-Joseph Proudhon (1840); Benjamin Disraeli (1845); Karl
Marx dan Friedrich Engels (1848). Materi adalah alasan meningkatnya
harapan hidup, pengurangan jam kerja serta tidak tidak mempekGambar 6 Filsafat perkembangan sejarah llmu sosial
Perkembangan yang sistematis pada mesin uap yang dihasilkan dari analisa
ilmiah, dan perkembangan analisa sosial politik berujung pada pemahaman
Adam Smith’s The (Wealth of Nations) yang memunculkan kapitalisme.
Perkembangan di era pencerahan menghasilkan kerangka keilmuan yang
terbuka bagi praktek aplikatif dari bangunan ilmu pengetahuan. Perkembangan
faham sosialisme (1871) adalah sebagai kritik dari gerakan kapitalisme yang
dimotori gerakan Marxisme sebagai dasar reaksi atas revolusi industry. Karl
Marx berpendapat bahwa industrialisasi menyebabkan masyarakat terbelah
menjadi kelompok bourgeoisie (kelompok yang menguasai produksi, pabrik
dan lahan) dan kelompok besar yang disebut proletariat (kelompok buruh).
Dia menganggap bahwa proses industrialisasi adalah praktek ekonomi feodal
dalam mengembangkan faham kapitalisme. Faham sosialis beranggapan
bahwa nilai dan tantangan budaya serta praktek ekonomi adalah hasil kreasi
sosial.
Sedangkan gerakan dan faham Romanticism adalah pertentangan antara hasil
revolusi industri dan seni. Gerakan ini didukung oleh para seniman puisi
separti William BlakedanWilliam Wordsworth,Samuel Taylor Coleridge,John
Keats, Lord Byron dan Percy Bysshe Shelley, dan seniman music seperti E.
T. A. Hoffmann yang dikenal sebagai Mozart, Haydn dan Beethoven (1810).
Gerakan ini menekankan pada pentingnya hal yang alamiah di seni dan
bahasa yang berlawanan dengan mesin-mesin dan pabrik-pabrik besar.Dalam faham sekularisme prinsip utama dari periode rezim abad
pertengahan, Renaissance dan ancien, pemerintahan monarki adalah
kehendak tuhan, yang secara fundamental ditantang oleh 1789 sebagai
Revolusi Perancis. Sehingga revolusi adalah ancaman langsung terhadap hak
istimewa para raja dan penguasa. Kemudian pada 4 Agustus 1789, gerakan
ini menghasilkanpenghapusan undang-undang tentang hak-hak istimewa
Gereja dan bangsawan. Sekularisme juga menantang dasar teologis dari
otoritas kerajaan. Doktrin kedaulatan rakyat secara langsung menantang hak
ketuhanan yang dimiliki para raja. Raja itu memerintah atas nama rakyat, dan
tidak berada di bawah perintah tuhan sebagaimana istilah sekularisme itu
sendiri. Sekularisme adalah prinsip pemisahan antara lembaga pemerintah
dan orang-orang yang diberi mandat untuk mewakili Negara dari lembaga
keagamaan. Di satu sisi, sekularisme dapat menegaskan hak untuk bebas dari
aturan agama dan ajaran, dan hak untuk bebas dari pengenaan pemerintah
agama pada orang-orang dalam sebuah negara yang netral dalam masalah
keyakinan. (Pemisahan gereja dan negara dan laïcité.). Faham sekuler
beranggapwan bahwa agama adalah keyakinan yang tidak rasional, tidak
ilmiah, atau tidak masuk akal. Mereka meyakini karena keyakinan agama
dan tradisi tidak memiliki dasar ilmiah atau rasional. Sehingga Karl Marx
menyatakan bahwa agama sebagai “candu rakyat”.
Cara pandang takhayul, tidak toleransi dan pelanggaran di gereja dan negara
di abad ke-18 yang terjadi di Eropa menghasilkanperpecahan ilmu dan
intelektual. Ungkapan “pemisahan gereja dan negara” berasal dari sebuah
surat yang ditulis oleh Presiden Thomas Jefferson pada tahun 1802 untuk
Baptis dari Danbury, Connecticut. Gerakan ini berusaha untuk memobilisasi
kekuatan alasan untuk mereformasi masyarakat dan pengetahuan, yang
disebut dengan Era Pencerahan. Pada awalnya erapencerahan mendapatkan
dukungan seperti Descartes pada Metode dan Wacana (1637), Isaac Newton
pada Prinsip Matematika (1687). Sedangkan pada awal Perang Napoleon
(1804-1815) sebagai akhir dari era pencerahan.
Gerakan pencerahan ini dimaksudkan untuk mengarahkan manusia untuk
lebih kuat diarahkan dan dibimbing dengan rasionalitas dibanding dengan
keimanan (faith). Era pencerahan ini menghasilkan filsafat pengetahuan positivisme sesuai dengan arahan rasionalitas. Ilmu sosial umumnya
digunakan sebagai istilah umum untuk mengacu pada sejumlah bidang di luar
ilmu-ilmu alam, diantaranya adalah ilmu antropologi, arkeologi, kriminologi,
ekonomi, pendidikan, linguistik, ilmu politik dan hubungan internasional,
sosiologi, geografi, sejarah, hukum, dan psikologi. Ilmu sosial ini muncul
dari filsafat moral dan dipengaruhi oleh Era Pencerahan. Perkembangan
Ilmu sosial selanjutnya dipengaruhi oleh aliran positivisme yang fokus
pada pengetahuan yang hanya berdasarkan pada pengalaman aktual dan
menghindari pengaruh aliran metafisik.
Namun saat ini para ilmuwan mengenalkan agama sebagai sumber
pengetahuan dan rumusan ilmu. Berbagai diskusi akademis seperti konferensi
dan jurnal yang diterbitkan secara internasional didukung oleh motivasi
agama. Misalnya, ilmuwan Islam yang mengusulkan bahwa bangunan
pengetahuan yang berdasarkan Quran, sedangkan ilmuwan Yahudi mencoba
mengeksplorasi hubungan antara Taurat dengan ilmu pengetahuan. Journal
of business ethics tahun 2009 menawarkan tema khusus Global Leadership
yang di motivasi oleh Pope Benedict XVI. Journal of Science, Art, and life in
the light of Torah. B’OR HA’TORAH adalah sarana diskusi ilmiah ilmuwan
yahudi yang ingin mengetahui hubungan antara kitab taurat dengan ilmu
pengetahuan, seni kreativitas, perilaku personal dan isu-isu sosial. Call for
papers dengan temaBuddhist Insights for a New World Economy, dilaksanakan
pada The 3rd Conference of the Buddhist Economics Research Platform, January 18-
19, 2010 di Brisbane, Australia. Call for papers pada The 8th Islamic Manuscript
Conference The Science of manuscripts; Manuscripts of Science pada 9–11 Juli 2012
dilakukan pada seminar di Queens’ College, University of Cambridge, United
Kingdom. Dengan demikian para ilmuwan tampaknya tidak puas pada aliran
positivisme sebagai dasar pengetahuan dan berusaha kembali ke agama
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Indartono, 2012).
Ide Kuntowijoyo dalam “Islam sebagai Ilmu” (2004): Epistemologi,
metodologi, dan etika, menawarkan konsep integrasi cara berfikir Islam dan
ilmu pengetahuan. Penerapan teks (Quran) pada kontek (Aplikasi) sebagai
penerapan konsep ketuhanan dan rumusan teori hingga pendekatan praktis.
Kritik Kuntowijoyo terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang berfaham positivisme memiliki biasa sejarah dan intelektualitas. Cara pandang
budaya dan ilmu sosiologi menilai sebuah realitas terbatas pada frasa seperi
kata, konsep, budaya symbol dan kesepakatan daripada tuntutan terhadap
realitas itu sendiri. Sehingga cara pandang ilmu sekuler menjadi subyektif
(Ilmu sosial tidak bebas nilai).
Kuntowijoyo (2004) meyakinkan bahwa sumber
ilmu terdiri dariQauliyah (Firman Tuhan),
Kauniyah (Alam Semesta), danNafsiyah (Diri
Manusia). Sehingga pengembangan ilmu
harus mengikuti 5 prinsip (maqoshid syariah):
pelesatarian agama, hidup, ilmu, materi, dan
keturunan. Konsep Ilmu menurut Kuntowijoyo
adalah Wholeness (kaaffah/menyeluruh),
Transformation (mutaghayirot/perubahan), dan
Self Regulation (Originality of Quran).
Sedangkan karakteristik ilmu terdiri dari
Interconnectedness (saling terkait), Innate structuring
capacity (Tertata: Tauhid-syariah-perilaku), dan Binary Opposition and
equilibrium (berpasangan). Metode pengembangan ilmu harus mengacu pada
Integralization/integrasi dan Objectification/objektivikasi (Kuntowijoyo, 2004).
Pribadi (2012) mengatakan, Ibn. Khuldun bisa dikatakan sebagai orang
pertama yang merintis ilmu sosial lima abad sebelum renaisance. Diskripsi
Ibn. Khuldum yang didasarkan pada fakta sosial menunjukkan bahwa gagasan
keilmuan yang dibangunnya senantiasa didasarkan
pada data empiris, yang dikemudian hari dikenal
dengan istilah madzhab positivistis.
Lebih Indahnya lagi, gagasan-gagasan pemikiran
Ibn. Khuldun selalu mengkaitkan relevansinya
dengan al Qur’an dan Hadis sebagai doktrin agama.
Sementara, gagasan keilmuan sosial Ibn. Khuldum
didasarkan pada analisisnya yang mendalam
tentang kehidupan masyarakat Badui dan Hadlar.Hasil Analisis Ibn. Khuldum menunjukkan bahwa, Masyarakat Nomad Badui
memiliki struktur dan kekhususan sosial seperti; kedekatan dengan kebajikan,
kehangatan jalinan, dan keseragaman. Masyarakat Hadlar memiliki stuktur
dan kekhususnnya seperti pluralis, prakmatis dan hedonis. Dari sisi gaya
hidup, masyarakat Badui tampak lebih dinamis, daripada masyarakat Hadlar.
Badui diwarnai oleh cara hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain
(harakah daimah) yang membuatnya menjadi cerdas dalam menyusun visi,
misi, program dan target yang akan dicapai dalam kehidupan. Kekhasan
Badui juga tercermin dalam kesiapan perbekalan hidup, yang tidak dimiliki
oleh masyarakat Hadlar. Karena masyarakat Hadrar hanya disibukkan
dengan kemakmurannya, dengan aktifitas pembangunan kota dan pendirian
masyarakat sipil.
Gambar 7 prinsip pengembangan ilmu dalam Islam
Perkembangan teori manjemen
Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen, namun
diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal
ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun
oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan
berhasil dibangun jika tidak ada seseorang tanpa memedulikan apa sebutan
untuk manajer ketika ituyang merencanakan apa yang harus dilakukan,
mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa
segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
Pembangunan piramida di Mesir tak mungkin terlaksana tanpa adanya
seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para
pekerja, dan mengontrol pembangunannya. Praktik-praktik manajemen
lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang
ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Penduduk Venesia
mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak
kegiatan yang lazim terjadi di organisasi moderen saat ini. Sebagai contoh, di
gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal; pada tiap�tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal tersebut. Hal
ini mirip dengan model lini perakitan yang dikembangkan oleh Henry Ford
untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan, orang Venesia memiliki
sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen
sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi
untuk melacak pendapatan dan biaya. Wren dan Bedeian (2009) membagi
evolusi pemikiran manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal,
era manajemen sains, era manusia sosial, dan era modern. Klasifikasi teori
manajamen diantaranya:
1. Aliran klasik: Aliran ini mendefinisikan manajemen sesuai dengan
fungsi-fungsi manajemennya. Perhatian dan kemampuan manajemen
dibutuhkan pada penerapan fungsi-fungsi tersebut.
2. Aliran perilaku: Aliran ini sering disebut juga aliran manajemen
hubungan manusia. Aliran ini memusatkan kajiannya pada aspek
manusia dan perlunya manajemen memahami manusia.
3. Aliran manajemen Ilmiah: aliran ini menggunakan matematika dan
ilmu statistika untuk mengembangkan teorinya. Menurut aliran ini,
pendekatan kuantitatif merupakan sarana utama dan sangat berguna
untuk menjelaskan masalah manajemen.
4. Aliran analisis sistem: Aliran ini memfokuskan pemikiran pada masalah
yang berhubungan dengan bidang lain untuk mengembangkan teorinya.
5. Aliran manajemen berdasarkan hasil: Aliran manajemen berdasarkan
hasil diperkenalkan pertama kali oleh Peter Drucker pada awal 1950an. Aliran ini memfokuskan pada pemikiran hasil-hasil yang dicapai
bukannya pada interaksi kegiatan karyawan.
6. Aliran manajemen mutu: Aliran manajemen mutu memfokuskan
pemikiran pada usaha-usaha untuk mencapai kepuasan pelanggan atau
konsumen.
Pemikiran awal manajemen
Sebelum abad ke-20, terjadi dua
peristiwa penting dalam ilmu
manajemen. Peristiwa pertama
terjadi pada tahun 1776, ketika Adam
Smith menerbitkan sebuah doktrin
ekonomi klasik, The Wealth of Nation.
Dalam bukunya itu, ia
mengemukakan keunggulan
ekonomis yang akan diperoleh
organisasi dari pembagian kerja
(division of labor), yaitu perincian
pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan
menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan
bahwa dengan sepuluh orang masing-masing melakukan pekerjaan khusus
perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam
sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap
bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan
sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat
meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan
kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam
pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat
menghemat tenaga kerja.
Peristiwa penting kedua yang memengaruhi perkembangan ilmu manajemen
adalah Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya
penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada
pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut “pabrik.” Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer
ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan
permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan
tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain,
sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.
Era manajemen ilmiah
Era ini ditandai dengan berkembangan
perkembangan ilmu manajemen dari
kalangan insinyur seperti Henry Towne,
Frederick Winslow Taylor, Frederick
A. Halsey, dan Harrington Emerson
Manajemen ilmiah dipopulerkan
oleh Frederick Winslow Taylor
dalam bukunya, Principles of Scientific
Management, pada tahun 1911.
Taylor mendeskripsikan manajemen
ilmiah sebagai “penggunaan metode
ilmiah untuk menentukan cara terbaik
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.”
Beberapa penulis seperti Stephen Robbins
menganggap tahun terbitnya buku ini
sebagai tahun lahirya teori manajemen
moderen.
Perkembangan manajemen ilmiah juga didorong oleh munculnya
pemikiran baru dari Henry Gantt dan keluarga Gilberth. Henry Gantt yang
pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel Compan, menggagas ide
bahwa seharusnya seorang mandor mampu memberi pendidikan kepada
karyawannya untuk bersifat rajin (industrious) dan kooperatif. Ia juga
mendesain sebuah grafik untuk membantu manajemen yang disebut sebagai
Gantt chart yang digunakan untuk merancang dan mengontrol pekerjaan.
Sementara itu, pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth berhasil
menciptakan micromotion, sebuah alat yang dapat mencatat setiap gerakan Setyabudi Indartono, Ph.D
yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk
melakukan setiap gerakan tersebut. Alat ini digunakan untuk menciptakan
sistem produksi yang lebih efesien.
Era ini juga ditandai dengan hadirnya
teori administratif, yaitu teori mengenai
apa yang seharusnya dilakukan oleh para
manajer dan bagaimana cara membentuk
praktik manajemen yang baik. Pada awal
abad ke-20, seorang industriawan Perancis
bernama Henri Fayol mengajukan gagasan
lima fungsi utama manajemen: merancang,
mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi,
dan mengendalikan.
Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan
sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu
manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan
terus berlangsung hingga sekarang. Selain itu, Henry Fayol juga mengagas 14
prinsip manajemen yang merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti
dari keberhasilan sebuah manajemen.
Sumbangan penting lainnya datang dari ahli sosilogi Jerman Max Weber.
Weber menggambarkan suatu tipe ideal
organisasi yang disebut sebagai birokrasi—
bentuk organisasi yang dicirikan oleh
pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan
dengan jelas, peraturan dan ketetapan yang
rinci, dan sejumlah hubungan yang impersonal.
Namun, Weber menyadari bahwa bentuk
“birokrasi yang ideal” itu tidak ada dalam
realita. Dia menggambarkan tipe organisasi
tersebut dengan maksud menjadikannya
sebagai landasan untuk berteori tentang
bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dalakelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain struktural bagi
banyak organisasi besar sekarang ini.
Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun
1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan
ilmu riset operasi, yang merupakan kombinasi
dari teori statistika dengan teori mikroekonomi.
Riset operasi, sering dikenal dengan
“manajemen sains”, mencoba pendekatan
sains untuk menyelesaikan masalah dalam
manajemen, khususnya di bidang logistik dan
operasi.
Pada tahun 1946, Peter F. Drucker—sering
disebut sebagai Bapak Ilmu Manajemen—
menerbitkan salah satu buku paling awal
tentang manajemen terapan: “Konsep
Korporasi” (Concept of the Corporation).
Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang
menugaskan penelitian tentang organisasi.
Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami�istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan
micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh
pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan
tersebut. Gerakan yang sia-sia
yang luput dari pengamatan
mata telanjang dapat
diidentifikasi dengan alat ini,
untuk kemudian dihilangkan.
Keluarga Gilbreth juga
menyusun skema klasifikasi
untuk memberi nama
tujuh belas gerakan tangan
dasar (seperti mencari,
menggenggam, memegang) yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka, Gilbreth, yang
dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema tersebut memungkinkan
keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap
gerakan tangan pekerja.
Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara
penyusunan batu bata. Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor
bangunan menemukan bahwa seorang pekerja melakukan 18 gerakan untuk
memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk interior.
Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu
sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior
berkurang dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata
interior, ia mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2
gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku
dapat lebih produktif dan berkurang kelelahannya di penghujung hari.
Pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik kuantitatif
seperti statistik, model optimasi, model informasi, atau simulasi computer
untuk membantu manajemen mengambil keputusan. Sebagai contoh,
pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil
kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path
Analysis) dapat digunakan untuk membuat penjadwalan kerja yang lebih
efesien; model kuantitas pesanan ekonomi (economic order quantity model)
membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum; dan lain-lain.
Pengembangan kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika
dan statistik terhadap masalah militer selama Perang Dunia II. Setelah perang
berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika yang digunakan untuk
memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis.
Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki “Whiz Kids.”
Para perwira yang bergabung dengan Ford Motor Company pada pertengahan
1940-an ini menggunakan metode statistik dan model kuantitatif untuk
memperbaiki pengambilan keputusan di FordEra manusia sosial
Era manusia sosial ditandai dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral
school) dalam pemikiran manajemen di akhir era manajemen sains. Mahzab
perilaku tidak mendapatkan pengakuan luas sampai tahun 1930-an. Katalis
utama dari kelahiran mahzab perilaku adalah serangkaian studi penelitian
yang dikenal sebagai eksperimen Hawthrone. Eksperimen Hawthrone
dilakukan pada tahun 1920-an hingga 1930-an di Pabrik Hawthrone milik
Western Electric Company Works di Cicero, Illenois. Kajian ini awalnya
bertujuan mempelajari pengaruh berbagai macam tingkat penerangan lampu
terhadap produktivitas kerja. Hasil kajian mengindikasikan bahwa ternyata
insentif seperti jabatan, lama jam kerja, periode istirahat, maupun upah lebih
sedikit pengaruhnya terhadap output pekerja dibandingkan dengan tekanan
kelompok, penerimaan kelompok, serta rasa aman yang menyertainya.
Peneliti menyimpulkan bahwa norma-norma sosial atau standar kelompok
merupakan penentu utama perilaku kerja individu.
Kontribusi lainnya datang dari Mary Parker Follet.
Follett (1868–1933) yang mendapatkan pendidikan
di bidang filosofi dan ilmu politik menjadi terkenal
setelah menerbitkan buku berjudul Creative
Experience pada tahun 1924. Follet mengajukan
suatu filosifi bisnis yang mengutamakan integrasi
sebagai cara untuk mengurangi konflik tanpa
kompromi atau dominasi.
Follet juga percaya bahwa tugas seorang pemimpin
adalah untuk menentukan tujuan organisasi dan
mengintegrasikannya dengan tujuan individu dan
tujuan kelompok. Dengan kata lain, ia berpikir bahwa
organisasi harus didasarkan pada etika kelompok daripada individualisme.
Dengan demikian, manajer dan karyawan seharusnya memandang diri
mereka sebagai mitra, bukan lawan.
Pada tahun 1938, Chester Barnard (1886–1961) menulis buku berjudul The
Functions of the Executive yang menggambarkan sebuah teori organisasi dalam rangka untuk merangsang orang lain memeriksa sifat sistem koperasi.
Melihat perbedaan antara motif pribadi dan organisasi, Barnard menjelaskan
dikotonomi “efektif-efisien”. Menurut Barnard, efektivitas berkaitan dengan
pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu
dapat terpuaskan. Dia memandang organisasi formal sebagai sistem terpadu
yang menjadikan kerjasama, tujuan bersama, dan komunikasi sebagai elemen
universal, sementara itu pada organisasi informal, komunikasi, kekompakan,
dan pemeliharaan perasaan harga diri lebih diutamakan. Barnard juga
mengembangkan teori “penerimaan otoritas” yang didasarkan pada
gagasan bahwa atasan hanya memiliki kewenangan jika bawahan menerima
otoritasnya.
Era modern
Era moderen ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total
(total quality management—TQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh
beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards
Deming (1900–1993) and Joseph Juran (lahir 1904). Deming, orang Amerika,
dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang. Deming berpendapat
bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari
kesalahan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya
meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai.
Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan, (1) biaya akan berkurang
karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya
penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material; (2) produktivitas meningkat; (3) pangsa pasar meningkat karena peningkatan
kualitas dan penurunan harga; (4) profitabilitas perusahaan peningkat
sehingga dapat bertahan dalam bisnis; (5) jumlah pekerjaan meningkat.
Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya
tentang peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran.
Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat
disebabkan karena faktor-faktor yang
sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen.
Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi
manajemen yang memasukkan perencanaan,
kontrol, dan peningkatan kualitas.
Juran mengusulkan manajemen untuk
memilih satu area yang mengalami kontrol
kualitas yang buruk. Area tersebut kemudian
dianalisis, kemudian dibuat solusi dan
diimplementasikan.
Sehingga secara ringkas, sejarah perkembangan teori manajemen tampak
pada tabel berikut ini.
Periode Aliran Manajemen Kontributor
1770—1860 Aliran klasik Robert Owen
 Charles Babbage
1870—1930 Manajemen ilmiah F. W. Taylor
 Frank dan Lilian Gilbreth
 H. G. Gantt
 H. Emerson
1900—1940 Teori organisasi klasik H. Fayol
 J. D. Mooney
 M. P. Follet
 C. I. Banard930—1940 Hubungan manusia E. Mayo
 F. Roethlisberger
 H. Munsterberg
1940—sekarang Manajemen modern Maslow,
 McGregor,
 Schien,
 Mc Clelland,
 Dale,
 Drucker, dkk.

Comments

Popular posts from this blog

berikut ini adalah beberapa contoh kasus pelanggaran etika bisnis yang terjadi di indonesia :

berikut ini adalah beberapa contoh kasus pelanggaran etika bisnis yang terjadi di indonesia : 1.Kasus Pembajakan Karya    Musisi Orkes melayu Eny Sagita dijatuhi hukuman 4 bulan penjara dan 6 bulan masa percobaan pada 28 mei 2014 silam.pengadilan negeri kabupaten nganjuk Jatim memvonis Eny Sagita karena terbukti menyanyikan lagu oplosan tanpa seizin pemilik lagunya Nurbayan.Menanggapi Vonis tersebut Eny mengakuia hanya bernyanyi karena permintaan penonton bukan untuk tujuan komersil. 2.Kasus pelmasuan Merk   Kasus Pemalsuan sebuah brand merk ternama yaitu kick denim,kasus ini terjadi diwilayah DIY.Berawal dari adanya laporan dari masyarakat selaku pemegang hak atas salah satu merk yang merasa dirugikan berinisial MT yang mendapat kuasa dari HT atas merk tersebut.Adapun merk tersebut adalah merk pakaian kick denim yang sangat laku keras dipasaran DIY,terutama di toko skala distro yang produknya menengah keatas.sedangkan pihak yang dilaporkan adalah beberapa toko yang ada d...

Contoh dari dampak citra buruk masyarakat

Contoh dari dampak citra buruk masyarakat terhadap sebuah organisasi/perusahaan itu ketika kualitas produk dan pelayanan perusahaan yang kurang akan membuat masyarakat kurang percaya dengan perusahaan. Hal ini jelas sangat merugikan internal perusahaan/organisasi itu sendiri. Sedangkan langkah yang harus diambil untuk permasalahan ini adalah dengan membersihkan nama baik, caranya perusahaan/organisasi mengevaluasi dan menginovasi produk-produk nya serta mengubah cara pelayanan nya dengan sebaik mungkin, intinya bagaimana agar pelanggan tersebut nyaman, kalau sudah nyaman mereka pasti akan kembali percaya lagi Mungkin gitu, terima kasih

Daftar Harga Rokok yang Naik Di Pasaran Tahun 2020-01-01

DAFTAR HARGA  Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho Jakarta  - Mulai hari ini pemerintah resmi menaikkan harga rokok seiring penetapan kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau, keputusan tersebut mulai berlaku pada hari ini, tepatnya 1 Januari 2020. Kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96%. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42%, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84%. Lantas berapa harga rokok sekarang? detikcom  mencoba mendatangi beberapa warung dan minimarket yang menjual rokok. Harga rokok memang sudah naik, bahkan masih ada potensi untuk terus naik. Menurut salah satu pemilik warung, Hani, harga rokok di warungnya memang sudah naik. Bahkan...